“Ma, Ayah
pulang….”
Mak dheg… ha?
Segera loncat ke depan ngeliat siapa yang datang. Ternyata … tidak ada
siapa-siapa, dan si K terkekeh kegirangan π
Kejadian sore
tadi setengah menggemaskanku dan setengahnya lagi tentunya mengiris-ngiris
batin. Well, I think it’s
about the time… Karena suatu sore beberapa hari yang lalu K bertanya:“Ayahku dimana
Ma?” π’
Pertanyaan itu membuatku
tercenung…. Meskipun dari awal sudah aku persiapkan jawaban sebaik-baiknya,
namun ketika pertanyaan itu muncul dari bibir mungilnya, tak urung membuat hati
ini rasanya perih dan mata ini tanpa dikomando terasa tergenang.
Yeah, ini
adalah salah satu risiko yang dihadapi ketika memutuskan untuk bercerai disaat
anak masih sangat belia, masih balita…. No, masih bayi tepatnya. K hanya
“pernah” melihat ayahnya 2 minggu saja saat dia lahir, setelah itu hingga usia
3,5 tahun ini tak sekalipun ia pernah melihat ayahnya kecuali melalui foto-foto
yang ditunjukkan padanya. Suara ayahnya dia dengarkan sampai dia berumur 3
tahun melalui telepon, setelah dia berusia 3 tahun tepat, tak sekalipun ayahnya
menelponnya. Maka sudahlah tak pernah bertatap muka, tak pernah lagi pula K mendengar
suara ayahnya lagi. Tak usah dicari siapa yang salah, jelaslah andil ayah dan mamanya
ini yang membuat K tidak dapat menikmati “kesempurnaan” orang tua.